Pasca Menikah: Cermin itu Memantulkan Siapa Diri Kita

Cermin bukan hanya memantulkan refleksi bayangan semata, namun ternyata sifat-sifat yang nampak dari bayangan tersebut juga dapat terbawa dari berbagai sisi. Entah itu, berupa sifat sudut yang terbentuk dari kontur bayangan atau bahkan sifat cahaya yang direfleksikan dari pantulan bayangan tersebut. Hal itulah, yang dapat menjadi analogi saya dalam memaknai kehidupan pasca menikah. Mengapa demikian? Karena, bayangan yang dihadirkan tersebut ialah berupa sifat-sifat bawaan yang lama-kelamaan akan tampak, dimengerti, diserap kemudian tanpa kita sadari hal itu akan menjadi pembiasaan baru bagi diri kita secara naluri atas sikap atau sifat yang dilakukan berulang-ulang oleh pasangan satu sama lain. Dengan kata lain, sangat mempengaruhi.

Lho, kok bisa? Pastinya, tanpa kita sadari hal tersebut bisa terjadi. Bagi setiap pasangan, proses mengenal satu sama lain adalah PR seumur hidup. Mengapa? Karena, faktanya banyak kasus perceraian yang terjadi akibat dari kurangnya pemahaman serta selisih paham dalam internal rumah tangga mereka. Sehingga, hal inilah yang patut menjadi landasan bahwasanya mengenal adalah studi penting yang wajib diamanatkan bagi tiap pasutri. Nah, lho! Gak usah pusing guys dan gak usah takut dengan yang namanya komitmen. Karena, ketika kamu dan pasangan sudah paham betul apa itu hak dan kewajiban suami istri, in syaa Allah rumah tangga kalian samawa sampai jannah, aamiin.
Mungkin, untuk beberapa kasus, saya bisa memberikan contoh sederhana terkait apa yang dimaksud dengan ‘memantulkan’ dalam konteks ini.
Next, saya pribadi alhamdulillah sudah menikah dan dalam waktu dekat ini akan menginjak tiga tahun usia pernikahan. Lantas, apa yang bisa kita jadikan contoh? Hal ini dapat saya rasakan secara pribadi dalam kehidupan sehari-hari. In fact, before married saya merupakan pribadi yang terbilang sangat ekstrovert, hal tersebut tampak dari ciri khas saya yang cukup pecicilan, ekspresif, dan senang curhat. Dan, saking terbukanya saya memiliki banyak sahabat sebagai tempat berbagi segala cerita dan keluh kesah. So, surely hal tersebut amat bertolak belakang dengan kepribadian my husband yang ‘super introvert’ dan very very independen.
Mengapa saya katakan demikian? Karena, saking tertutupnya kepribadian suami saya, dia selalu menganggap semua hal everything will be alright (?) -sumpah, ini asli ke pede an banget- dan bahkan seolah-olah dia hidup tidak butuh orang lain, which is kecuali pastinya butuh Allah.
Hal itu, berbalik banget 360 derajat dengan sikap dan keseharian saya yang tidak bisa jauh dari orang lain, alias sangat bergantung or depend and bla bla bla hahaha.
Dan, perubahan besar itu pun terjadi after marriage. Saya pribadi sangat merasakan adanya ‘pantulan’ yang dipantulkan oleh suami saya dalam keseharian kami. Proses itu pun terus berlangsung, sampai akhirnya saya menyadari bahwa hingga saat ini ternyata “oh, gue bisa ya gak curhat apapun ke sahabat-sahabat gue lagi”. Anehnya, saya seolah seperti menarik diri dan berperilaku layaknya suami yang senang menghindari hiruk pikuk kehidupan sosial, exclude medsos pastinya. W-O-W, wooooww… (Wkwkwkwkwk)
Entah, tanpa disadari ada kaitannya atau tidak. Namun, hal tersebut secara jelas dapat tergambarkan dari adanya ikatan emosi akibat dari dua jiwa yang menyatu menjadi satu (tsah, apalagi coba), sehingga secara psikologis hal-hal yang berbau kebiasaan, sikap maupun kultur akan diserap pasangan satu sama lain yang mau tidak mau, suka tidak suka tiap-tiap diri pasangan harus menerima, memahami dan hingga akhirnya menjadi kebiasaan yang berlaku juga bagi dirinya. Rumit kedengarannya bukan. Namun, kita amat perlu memahami ini agar kestabilan dan ‘kewarasan‘ rumah tangga tetap terjaga.
Finally, pernikahan itu bukan hanya membutuhkan proses di awal. Namun, proses panjang yang berlaku seumur hidup. Dan, pada titik ini kita harus belajar apa yang disebut dengan fase penerimaan. Sehingga, segala hal di awal yang terasa indah akan terus terjaga eksistensinya hingga akhir dan berlangsung terus menerus. And then, hadirnya ‘pantulan’ yang tanpa kita sadari diserap oleh pribadi kita nantinya dapat menjadi penunjang kebersamaan dengan pasangan sebagai bagian dari kehidupan pernikahan yang tak terpisahkan. Allahualam bi showab.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s