Bolehkan Mendoakan Keburukan Untuk Suami?

 

Konflik dalam rumah tangga tidak lebih merupakan bumbu-bumbu penyedap yang biasa dan lumrah terjadi dalam kehidupan rumah tangga. Bahkan, jika ia tidak ada, maka kehidupan ini rasanya seolah-olah hambar dan tidak ada tantangannya sama sekali. Umumnya, ketika dihadapkan suatu konflik, seorang istri seringkali tidak sabar menghadapi suaminya, sehingga dengan ketidaksabarannya, ia pun segera mendoakannya dengan keburukan dan segala macamnya.

Lantas, apakah mendoakan suami dengan keburukan diperbolehkan dalam syariat Islam?

Lazimnya, mendoakan suami dengan keburukan, nyatanya tidak ada bedanya dengan mendoakan diri sendiri dengan hal yang sama. Ibarat satu jiwa, suami adalah bagian dari anda dan anda adalah bagian dari suami. Maka, apabila salah seorang diantaranya mendoakan keburukan untuk pihak lainnya, ini berarti sama halnya dengan mendoakan keburukan untuk dirinya sendiri. Hal ini, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda, yang artinya:

“Janganlah mendoakan diri kalian kecuali dengan kebaikan, karena para malaikat mengaminkannya.” (HR. Muslim)

Kendati demikian, hal ini tidak selayaknya dilakukan oleh siapapun yang mengaku beriman kepada Allah SWT. Pasalnya, hal tersebut merupakan perbuatan terlarang yang sama sekali tidak diridhaiNya. Sebagaimana kita ketahui, bahwa adapun salah satu syarat doa yang akan dikabulkan ialah doa yang tidak mengandung dosa di dalamnya. Lantas, jika dikaitkan doa seperti ini tentunya mengandung dua hal yang terlarang, yakni: Pertama, mengandung dosa. Kedua, zalim, dan melampaui batas.

Oleh karenanya, bersabarlah. Karena, dengan adanya kesabaran dalam diri seorang istri mampu menahan lisannya untuk tidak tergesa-gesa mendoakan hal yang buruk-buruk untuk suamiya. Mengingat, semua itu ada hikmahnya di hadapan Allah SWT. Sebagaimana ditegaskan dalam haidts lainnya yang berbunyi:

“Janganlah mendoakan keburukan bagi diri kalian, janganlah mendoakan keburukan bagi anak-anak kalian, dan janganlah mendoakan keburukan bagi harta kalian. Tidaklah kalian berdoa pada waktu yang mustajab, kecuali Allah SWT akan mengabulkannya untuk kalian.” (HR. Muslim dan Abu Dawud).

Adapun, misalnya, di antara para istri ada yang pernah berbuat demikian, maka segeralah bertobat dan memohon ampun kepada Allah. Mengingat, ia telah melakukan kezaliman baik terhadap dirinya sendiri maupun suaminya. Semoga Allah senantiasa menuntun dan melembutkan hati-hati kita untuk menjadikan sabar dan salat sebagai penolong kita. Aamiin.

Iklan

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s