After Giving Birth: Suami Kudu Peka!

Melahirkan merupakan momen terindah yang dimiliki oleh setiap pasangan suami istri yang telah lama menantikan kehadiran seorang bayi. Tidak hanya itu, seluruh anggota keluarga lainnya juga turut menyambut hadirnya anggota baru dalam keluarga. Meski, waktu yang dibutuhkan oleh tiap pasutri untuk mendapatkan keturunan relatif berbeda-beda, serta dipengaruhi oleh berbagai faktor lainnya. Namun, pernahkah terpikir bahwa dibalik momen bahagia tersebut terdapat tanggung jawab besar yang harus dipikul bersama oleh setiap pasangan? Pastinya, IYA.

Berbicara about after giving birth, pastinya terbayang dengan jelas betapa riweuh dan sibuknya menjalani proses adaptasi keluarga yang baru. Mengingat, bukan hanya baby saja yang harus beradaptasi dengan lingkungannya yang baru setelah 9 bulan tinggal di rahim, namun juga para orang tua baru khususnya yang baru saja memiliki anak pertama. Dalam hal ini, baby tentunya sedang dalam proses berjuang menyesuaikan fisik dan ruang geraknya yang tak lagi terbatas laiknya rahim. Serta, belajar mengenali, merasakan dan mengoptimalkan panca indra yang dimilikinya. Tentunya, untuk mewujudkan semua itu baby harus dalam kondisi tenang dan senyaman mungkin, sehingga proses tumbuh kembangnya berjalan optimal.

Dan, guna merealisasikan hal tersebut tiap pasutri harus melakukan kerja sama dalam setiap prosesnya. Meski hati, fisik dan fikiran telah terkuras habis-habisan, sehingga dilanda lelah berlebih dan tak jarang berujung emosi yang meledak-ledak. Para ibu pasca melahirkan, tentunya pernah merasakan hal ini, sedih, galau, stress dan merasa serba salah. Sehingga, berujung pada baby blues syndrome, yakni gangguan mood atau psikologis pasca melahirkan. Adapun, gangguan mood ini terbilang normal dan jika tidak segera ditangani bisa berakibat fatal, bahkan bisa sampai menimbulkan kematian, baik itu pada ibu atau bayinya dan keduanya. Akan tetapi, dalam tulisan ini saya tidak akan membahas terlalu dalam tentang baby blues syndrome.

Kendati demikian, perlu kita cermati baik-baik salah satu faktor penting yang harus dihadirkan untuk mengantisipasi munculnya baby blues syndrome tersebut, yaitu pentingnya support system. Nah, support system ini sangat penting, tidak hanya setelah melahirkan namun juga selama proses kehamilan berlangsung. Sehingga, kelak bayi-bayi yang dilahirkan adalah bayi-bayi yang tenang dan selalu berpikir positif. So, apa aja sih support system itu? Yang jelas, bisa buanyaak banget. Bisa suami, orang tua, sahabat, saudara kandung, bahkan tenaga kesehatan. Namun, secara yang hamilin kan suami sendiri pastinya ya, sehingga orang pertama yang wajib bertindak dalam support system ini kudu SUAMI. Terlebih, pasca melahirkan yang benar-benar memasuki fase baru kehidupan dan proses adaptasi yang super luar biasa. Please deh, kurangin me time nya sendirian pak, toh istrinya juga pengen me time biar kelihatan cantik dikit hahaa.

Nah, ini poin utama kita. Teruntuk para suami, di fase pasca melahirkan ini akan banyak cerita, mulai dari tawa dan air mata. Khususnya, para istri yang mengalami secara langsung imbasnya, mereka akan mengalami krisis percaya diri terhadap bentuk tubuh yang tak se ideal dulu, juga dalam hal ranjang. Dimana, adanya bekas jahitan perineum bagi yang melahirkan secara pervaginam. Tentunya, agak sedikit menyiksa. Para istri dalam proses ini akan rela mati-matian memberikan perawatan yang terbaik bagi sang buat hati, sehingga kerap mengabaikan diri mereka sendiri. Waktu untuk istirahat pun pastinya berkurang, lantaran seiring dengan intensitas menyusui si baby tiap waktu, serta belum lagi jika si baby ngajak begadang sampai pagi. Yaa Allah, kantung mata makin tebel aja rasanya, hiks.

Oleh sebab itu, agar istrimu bahagia lahir dan batin, please TOLONG PEKA yess! Bukan tanpa alasan, jelas suami yang sangat peka terhadap kondisi sang istri tidak hanya akan membuat istri bahagia, namun juga menghasilkan anak-anak yang bahagia. Dan, kebahagiaan itu terukur dari damainya kondisi rumah beserta penghuninya. Simpel kan?

So, darimana memulai untuk bersikap peka? Mudah banget, pak. Pertama, jangan membandingkan kondisi istri dengan apapun, entah apapun itu parameternya, cukup buat dia bahagia dengan setiap hari mengatakan, “Kamu bidadariku yang paling cantik, kamu setiap hari selalu membuatku jatuh cinta, sehingga aku mencintaimu sepenuh hati. Terima kasih telah mengijinkanku menjadi suamimu.”
Dijamin istri bakal klepek-klepek, meskipun doi agak ragu pas lihat body nya yang makin lebar.

Kedua, cepat tanggap dan inisiatif membantu pekerjaan rumah tangga dan mengurus anak. Nah, Kayak gini nih bikin istri bakal bertekuk lutut sama suami. Dikarenakan, dalam pandangannya suaminya itu keren, enggak capek-capek, abis pulang kerja dari kantor seharian rela bantu-bantu di rumah demi bisa melihat senyuman istrinya.

Ketiga, ini paling simpel, jika ada rejeki lebih, please jangan pelit lah. Tambahin duit bulanan si istri agar doi bisa merawat dirinya yang ujung-ujungnya buat suami juga. Dan, sebagai istri juga kudu bersyukur, sehingga pas dikasih tambahan duit bulanan, kita kasih doa-doa panjang yang melangit untuk suami, agar suami juga semakin getol cari duit. Hahahaha, ini matre banget sumpah. Tetapi, memang kenyataannya seperti itu, suami yang dermawan ke istri, rejekinya insha Allah juga semakin deras.

Oke, sepertinya hanya sampai segini aja yang bisa saya tuliskan. Kurang lebihnya mohon maaf, dan semoga dapat membangkitkan kesadaran para suami untuk lebih peka terhadap istrinya di rumah. Wassalam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s