Ichiyo, Sosok Perempuan Miskin di Lembar Uang Jepang (Review Novel)

IMG_20181113_092639.jpg

Judul: Catatan Ichiyo (Perempuan Miskin di Lembar Uang Jepang)
Penulis: Rei Kimura
Penerjemah: Moch. Murdwinanto
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-979-22=7764-7

 

 

“Aku bisa melakukannya. Ayah percaya padaku, jadi aku tak boleh mengecewakannya.” (Ichiyo Higuchi)

Natsuko Higuchi, sosok gadis muda jepang yang memiliki kekuatan besar untuk merubah jalan hidupnya melalui tulisan. Berangkat dari ketertarikannya terhadap sastra, Natsuko muda pun serius mendalami minatnya tersebut di zaman Meiji yang penuh dengan pengekangan atas aturan sosial terhadap anak perempuan. Namun, lambat laun sosoknya pun makin diakui dan disegani karena kelihaiannya dalam menulis sajak. Tidak butuh waktu lama, Natsuko muda pun akhirnya mengambil keputusan besar untuk mengganti namanya menjadi Ichiyo Higuchi.

Tumbuh dan besar dalam suasana yang teramat kental dengan sastra, membuat Natsuko kecil begitu bersemangat mewujudkan cita-citanya untuk menjadi penulis. Menariknya, di usianya  yang masih sangat kecil dia lebih senang menghabiskan waktunya dengan buku-buku, ketimbang bermain di luar dengan teman-teman sebayanya. Akan tetapi, kedua orang tua Natsuko sangat menentang kebiasaan anaknya tersebut. Tidak jarang, saat mendapati Natsuko sedang membaca diam-diam di suatu tempat, lantas dia pun tak pernah luput dari omelan sang ibu. Mengingat, betapa ketatnya aturan saat itu yang membatasi kaum perempuan untuk berkecimpung di dunia sastra.

“Jika aku besar nanti, aku ingin menjadi seorang penulis, seperti teman-teman ayah,” kata Natsuko tegas saat ia menyusup ke dalam futon-nya malam itu. 
“Kau tak mungkin menjadi penulis, Natsuko, karena kau perempuan,” kakaknya, Sentaro menyahut. “Tugas perempuan adalah menikah dan tinggal di rumah serta melahirkan anak, bukan menjadi penulis atau apapun!”
“Jangan berkata begitu, Sentaro,” teriak Natsuko. “Perempuan mampu menjadi apapun yang mereka inginkan asalkan mereka memiliki otak dan sepasang tangan! Mereka sama pintarnya dengan laki-laki!”

Kehidupan Natsuko pun terus berjalan. Naasnya, saat sepeninggal sang ayah, Natsuko dan keluarga pun terjebak dalam situasi yang menyedihkan dan dekat dengan kemiskinan. Segala pekerjaan pun Natsuko lakukan demi mendapatkan semangkuk sup miso shiro, nasi dan acar untuk keluarganya.  Seperti berdagang, menulis cerpen dan novel, sampai menjahitkan kimono orang lain dan mencuci pun dia lakoni.

Pekerjaan itu pun terus dia lakukan sambil menggeluti hobinya yakni membaca. Sampai akhirnya, nasib baik menuntun Natsuko muda menjadi seorang penulis yang namanya mulai melambung dan dikenal seantero negeri. Perlahan sambil merangkak, dengan profesi barunya sebagai penulis saat itu dia mampu memberikan sedikit perubahan bagi keluarganya dari kemelaratan hidup yang mendera mereka selama ini.

Namun sayang, saat karirnya tengah menanjak, kesehatan Natsuko semakin memburuk. Hal ini disebabkan lantaran penyakit tuberkolosis yang sebelumnya juga pernah diderita oleh sang kakak. Puncaknya, penyakitnya pun semakin parah hingga mengantarkan Natsuko menutup mata selama-lamanya di usia yang masih sangat belia, yaitu 24 tahun. Akan tetapi, meski nyawanya telah tiada, karya-karyanya akan terus hidup dan dihormati oleh warga Jepang. Bahkan, setelah beberapa ratus tahun kemudian wajah Natsuko pun diabadikan dalam mata uang kertas 5.000 yen.

IMG_20181113_092511.jpg

Membaca novel ini bagi saya pribadi, seperti sedang memahami isi biografi seorang Sastrawan wanita Jepang Ichiyo Higuchi dengan bahasa yang lugas, mudah dimengerti, serta jalan ceritanya pun disajikan sangat mengalir. Dan, itulah yang menjadi beberapa kelebihan bagi Rei Kimura selaku penulis yang menuliskan novel ini. Adapun,  kekurangannya adalah bahasa yang digunakan sangatlah umum serta terdapat beberapa pengulangan kalimat dalam bab berikutnya, sehingga kurang terkesan istimewa. Namun, secara keseluruhan penulis dapat menyajikan alurnya secara apik dan detail. Bahkan, peristiwa-peristiwa kecil yang dialami Natsuko selama hidupnya pun tak luput dari penggambaran Rei Kimura dalam menuliskannya.

Akhir kata, buku ini bagi saya sangat menginspirasi, khususnya untuk kaum wanita agar terus berjuang meraih mimpi menjadi apapun yang diinginkan.  Dan, tak lupa semangat dan harapan yang terus mencuat seiring dengan berjalannya waktu. Seperti halnya, Natsuko yang tak pernah berhenti bermimpi dan berjuang meraih mimpinya menjadi seorang penulis di masa depan. Have a good day!

Iklan

15 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s