Memaknai Kata dalam Persahabatan

Winped, begitulah sapaan khas saya setiap kali bertemu dengannya. Kami berdua pun mulai terbilang akrab tepat saat berada di satu organisasi Badan Eksekutif Mahasiswa tingkat fakultas selama hampir 1 tahun. Selama itu pula cukup banyak waktu yang kami habiskan bersama, entah untuk diskusi rapat kerja, program divisi, bahkan mirisnya sampai curhat masalah pribadi, ex. naksir-naksiran.

Banyak hal yang telah kami bagikan hampir selama 1 tahun itu dan terus berlanjut sampai 5 tahun ini. Mimpi dan hobi kami pun nyaris terbilang sama, yaitu menulis dan berkarya melalui tulisan. Dan, hal itupun mulai terwujud saat masing-masing dari kami lulus kuliah, dimana kami berdua bekerja di perusahaan media massa sebagai jurnalis di tempat yang berbeda. Namun, rupanya langkah saya lebih dulu terhenti sebagai jurnalis pasca menikah, lantaran waktu kerjanya yang unlimited, hiks. Well, it’s okay. Setidaknya, cukuplah bagi saya selama 1 tahun untuk mengenyam “indahnya” sebagai reporter di lapangan.

Next, kali ini saya akan fokus pada sahabat saya yang satu ini. Sosoknya menjadi inspirasi bagi saya untuk tetap menulis dan berkarya di tengah-tengah kerepotan mengurus buah hati. Gadis energik dengan perawakannya yang kutilang alias kurus tinggi langsing ini, rupanya telah lebih dulu masuk dan belajar di One Day One Post Batch 3. Darinya saya banyak belajar dan bertukar pikiran tentang bagaimana menghasilkan tulisan yang baik dan berkualitas. Bahkan, saat ini kiprahnya sudah melalang buana di dunia penulisan fiksi. Meski disibukkan dengan pekerjaannya di media massa, namun nyatanya dia masih mampu mengemban amanah sebagai editor di sejumlah penerbit indie.

Winda Astuti, itulah nama lengkapnya. Gadis kelahiran Bekasi, 20 November 1992 ini nyatanya tidak pernah kehabisan energi untuk terus menulis. Pantang baginya untuk mengeluh lelah. Bagi saya dia sungguh istimewa. Dalam obrolan singkat kami di WA beberapa hari lalu, meski diselingi dengan candaan dan lelucon receh, saya bertanya padanya kira-kira begini. Rencana kedepannya lo mau ngapain lagi win? Dengan cepat, dia pun membalas tentang mimpinya untuk menulis buku solo yang saat ini bisa dikatakan sedang dalam proses. Doakan!

Sambil mengamini dalam hati, saya pun lanjut bertanya padanya perihal bagian apa yang paling dia nikmati saat menulis. Dengan singkat, dia pun menjawab: BERIMAJINASI. Begitulah jawabannya, saya pun berpikir, betul juga apa yang disebutkannya, bahwa dalam setiap proses kreatif yang dilalui tentunya banyak membutuhkan imajinasi baik real ataupun fiktif didalamnya. Sungguh menarik! Selain itu Winda juga menuturkan bahwa dalam proses menulis itu sendiri hendaknya selalu menghadirkan semangat untuk berbagi kebaikan dan kebenaran didalamnya sebagai motivasi utama. Dan, lagi-lagi hal itu membuat saya tercengang atas semangatnya yang berapi-api.

Di akhir kata, dia menyampaikan bahwa dalam menulis itu tidak ada sekat yang membatasi. Biarkan semuanya mengalir dalam bentuk tulisan yang memiliki nilai manfaat dan dapat dipertanggungjawabkan sebaik mungkin. Karena, membiasakan diri dengan menulis apapun itu adalah awal dari terbentuknya passion yang sesungguhnya.

“Nulis ya nulis aja, yang penting selalu ingat setiap kata yang ditulis akan dimintai pertanggungjawaban Allah,” tandas Winda.

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s