Pasca Menikah: Intervensi Orang Tua, Perlu Kah?

Kehidupan pasca menikah, khususnya bagi newlywed acapkali diwarnai dengan berbagai hal yang manis-manis. Bahkan, saking manisnya bagi tiap pasangan ini tentunya tidak ingin melewatkan tiap momen kebersamaanya yang sangat berharga begitu saja, karena menurut mereka hal itu ‘masih begitu terlalu manis’. Sehingga, sangat disayangkan jika di awal mula hubungan mereka dibumbui dengan sedikit kericuhan dan kesalahpahaman. Namun, jika noise itu hadir dari pihak orang tua dalam bentuk intervensi, bagaimana sikap kita untuk menyikapinya?

Beda Cara, Beda Tujuan

Pictured by pexels.com/Leah Kelley

Sebagai anak, saya sadar betul bahwasanya tiap orang tua ingin memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya. Baik itu, dalam bentuk support materi ataupun advice berupa masukan yang seringkali kita artikan sebagai INTERVENSI. Akan tetapi, banyak juga orang tua yang memiliki pemahaman yang berbeda-beda terkait advice ini. Sebagian besar diantara mereka ada yang berpikir bahwa advice yang mereka berikan ini enggak lebih hanya sekadar masukan, just masukan lho ya! Enggak bermaksud untuk ikut campur apalagi mengurusi rumah tangga anak-anak mereka.

Namun rupanya, sebagian lagi masih ada yang berpikir secara konvensional. Dimana, advice yang mereka berikan ini HARUS dilaksanakan. Jika tidak, maka orang tua akan merasa kurang berkenan atas keberlangsungan rumah tangga mereka. Entah itu, tiba-tiba jadi jutek, enggak ada kabar (hilang begitu saja) dan bahkan kalau ketemu bawaannya nyinyir atau ngomelin si anak terus, hiks syediih. Namun, seperti itulah realitanya yang pahit lagi getir. Jadi, please jangan membayangkan kehidupan pasca pernikahan itu indah melulu ya gaes, hehe.

Tiap Pasangan Memiliki Privilege Masing-Masing

Yup, betul banget. Saya yakin sekali bahwasanya tiap pasangan memiliki privilege-nya masing-masing. Entah, dalam bentuk apapun itu. Baik itu berupa keleluasaan untuk mengatur sendiri hidup mereka atau bahkan lantaran adanya support materiil sehingga orang tua ini kudu banget ikut campur urusan rumah tangga si anak. Meski, bukan karena soal support materiil aja, namun masih banyak alasan lain yang menjadikan orang tua ini ‘mesti’ ikut campur rumah tangga si anak. Misalnya, karena masih terlalu muda usianya sehingga perlu diarahkan untuk menjadi pasutri yang baik, atau bahkan karena hal-hal tertentu lainnya. Sehingga, mau tidak mau para orang tua inipun merasa perlu untuk ikut campur.

Pictured by pexels.com/Min An

Kendati demikian, di satu sisi saya pribadi merasa sangat kagum dengan para pasangan yang memiliki privilege untuk mengatur rumah tangga mereka sendiri. Terlebih, mereka memulai segalanya dari NOL. Mencoba mandiri dan terus bertahan dalam berbagai kondisi yang menyakitkan sekalipun. Mirisnya, tak ada satupun keluhan yang sampai pada telinga kedua orang tua mereka. Bagi saya, ini sangat menarik. Dan, teramat ROMANTIS. Meski pada kenyataannya, sesekali iseng-iseng bolehlah minta masukan dari ortu, hehe.

Namun, sudah seyogyanya memang untuk menjadi pasangan yang mandiri dalam berbagai hal itu perlu banget. Karena, tidak selamanya kita dapat bertahan hidup dari ‘sokongan’ ortu. Syukur-syukur kalau kaya tajir melintir. Lah, kalau biasa-biasa aja, mau gak mau sistem sandwich generation akan terus berjalan toh. Maka, mau tidak mau menjadi pasangan mandiri bukan lagi menjadi suatu pilihan. Melainkan, sebuah keharusan yang mesti direalisasikan oleh tiap pasangan. Siip, bisa lah ya!

Saat Intervensi Orang Tua ‘Memaksa’, Kita Harus Apa?

Masih dengan ‘oleh-oleh’ yang sama dari diskusi hangat bersama Komunitas Rumah Pencerah beberapa waktu yang lalu. Kali ini, saya ingin sedikit berbagi tips tipis-tipis yang langsung disampaikan oleh Ibu Fery Farhati (please, you know lah yaa) dalam diskusi tersebut. Well, kira-kira tips apa saja sih yang beliau sampaikan terkait hadirnya intervensi orang tua ini dalam rumah tangga sang anak, berikut ulasannya:

Pictured by pexels.com

Terlebih dahulu menciptakan karakteristik keluarga bersama pasangan, tanpa campur tangan orang ketiga. Ini penting banget lho gaes! Karena, dengan kita sadar atas visi dan misi yang ingin kita wujudkan dalam sebuah pernikahan, otomatis hal ini pun akan membentuk goals dan karakteristik yang ingin kita wujudkan dalam rumah tangga kita. Jadi, perlu banget nih saling menyamakan ‘suhu’ terlebih dahulu. Jika tidak, maka bersiaplah-siaplah kalau sewaktu-waktu salah satu pihak dapat dengan mudah termakan intervensi dari pihak ketiga. Bukan termakan sih, tepatnya mudah terbawa arus. Sehingga, prinsip rumah tangga pun dapat goyah dengan mudah. Disebabkan karena salah satu pihak dari pasutri tidak sejalan. Nah lho, makanya MIKIR dulu sebelum mau nikah. Jangan bayangin yang enak-enaknya aja, hehe.

Memutuskan masalah berdua secara realistis. Yup, dalam menyelesaikan masalah perlu banget yang namanya REALISTIS, khususnya masalah rumah tangga. Jadi, enggak asal gitu aja dalam menyelesaikan masalah. Kudu dalam kondisi hati yang jernih (NO BAPER) dan kepala dingin. Sehingga, solusi dari setiap permasalahan pun akan dengan mudah hadir. Sing penting, enggak pake emosi ya gaes apalagi sampai ngegasss.

Teguh pada prinsip atas adanya influence orang tua. Hingga kini, saya yakin bahwa orang tua memiliki cara masing-masing dalam menyampaikan rasa cinta mereka terhadap anak-anaknya. Meski, cara yang dilakukan pun terkesan sangat berlebihan sampai mengatur dan ikut campur didalamnya. Namun, hal utama yang perlu kita lakukan adalah bersikaplah bijak dan teguh pada prinsip serta tunjukkanlah pada mereka bahwa kita memiliki pendirian atau prinsip dalam menetukan arah rumah tangga. Surely, secara sopan dan halus ya Mak! Dengan itu, lambat laun orang tua pun akan sadar atas intervensi mereka yang dirasa berlebihan pada anak-anak mereka. Jadi, mohon bersabar yaa.

Mengalah dan Jadikan ini Sebagai Bakti Kita Kepada Orang Tua. Maksudnya ialah kita tidak perlu membantah, cukup dengarkan dan sikapi dengan bijak serta selesaikan dengan cara terbaik versi kita. Karena, dalam konteks ini kita hanya perlu menilai bahwa adanya intervensi dari ortu ini sifatnya tidak lebih hanya sekadar masukan. Just masukan lho yaa, CATET! Jadi, enggak usah buru-buru baper, kalemin aja dulu hehe. Intinya, mau sebesar apapun masalahnya, toh kondisi sebenarnya hanya kita dan pasangan yang tahu. Maka, dalam penyelesaiannya pun cukup dilakukan bersama pasangan saja, tanpa perlu melibatkan pihak luar. Be wise yaa.

Finally, menurut versi saya, bilamana muncul intervensi dari orang tua ini ada baiknya jika kita mendengarkannya terlebih dahulu. Dengan catatan, tanpa perlu ‘menelannya’ bulat-bulat. Mengingat, memang sudah seharusnya pinta orang tua ini untuk kita dengarkan, meski tidak berakhir dengan cara mereka saat eksekusinya. Cobalah belajar untuk bisa memahami pasangan satu sama lain, dengan kata lain meminta pengertian mereka untuk pemakluman yang satu ini. Intinya, segala solusinya dikembalikan lagi kepada kita dan pasangan. Karena, kitalah yang menjalani kehidupan rumah tangga ini hingga seterusnya. Semoga bermanfaat, SALAM WARAS!

Iklan

One comment

  1. kalau aku sih perlu selama gak ngubah aturan di tempat aku, maamku dulu sering bantu2 aku saat awal nikah tp setelah aku mapan gak lagi

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s